KEHIDUPAN SELAMA TIDAK TKA ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜œ๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

HAAAAAALOOOOOO GUYSSSSSS!!! selamat hari selasa di siang hari yg panas ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ต jadiii aku ga ikut TKA YEEEEAAAAYYYYY ๐Ÿ’“๐Ÿ’“

Selama dua hari ituโ€”Rabu dan Kamisโ€”semuanya tetap berjalan seperti biasa, tapi ada satu hal yang pelan-pelan terasa hilang: kamu. Bukan hilang yang besar dan langsung terasa menyakitkan, tapi yang kecilโ€ฆ yang justru biasanya selalu ada tanpa disadari.

Hari Rabu dimulai dengan cara yang sama, tapi rasanya beda sejak awal. Bangun pagi, setengah sadar, tangan otomatis mencari HPโ€”sebuah kebiasaan kecil yang biasanya diikuti hal sederhana: pesan dari kamu. Nggak harus panjang, kadang cuma satu kata, tapi cukup untuk bikin hati terasa hangat.

Tapi pagi ituโ€ฆ nggak ada apa-apa.

Layar terasa kosong, dan entah kenapa, hati ikut terasa lebih sepi. Hari tetap berjalan. Aku tetap menjalani aktivitas, tetap ngobrol dengan orang lain, bahkan tetap tertawa. Tapi di sela-sela itu, ada momen di mana semuanya terasa kurang lengkap.

Kayak ada cerita yang pengen dibagi, tapi nggak ada tempatnya.
Kayak ada hal kecil yang pengen dikirim ke kamu, tapi akhirnya cuma disimpan sendiri.

Dan malamnyaโ€ฆ itu yang paling terasa.
Biasanya malam jadi waktu paling dekat, paling hidup. Tapi tanpa kamu, malam itu terasa panjang. Sunyi, tapi bukan sunyi yang menenangkanโ€”lebih ke sunyi yang bikin sadar kalau ada sesuatu yang hilang.

Aku cuma pegang HP, scroll tanpa tujuan, berharap ada distraksi. Tapi tetap aja, ada bagian yang nggak bisa diisi.

Hari Kamis datang dengan perasaan yang lebih tenang, tapi bukan berarti sudah biasa. Lebih ke mulai menerima, meskipun masih terasa.

Hari itu aku belajar daring. Awalnya biasa saja, tapi lama-lama terasa capek. Duduk lama di depan layar, mencoba fokus, mendengarkan, memahamiโ€ฆ tapi pikiran gampang sekali melayang. Mata lelah, kepala terasa penuh, dan badan mulai ikut capek.

Biasanya, di sela-sela capek seperti itu, aku punya tempat untuk โ€œistirahatโ€ sebentarโ€”ngobrol sama kamu. Sekadar kirim pesan, cerita sedikit, atau bahkan cuma baca balasan dari kamu sudah cukup buat bikin energi balik lagi.

Tapi hari itu nggak ada.

Dan capeknya jadi terasa lebih berat.

Bukan cuma capek fisik karena belajar daring, tapi juga capek yang nggak bisa dijelaskanโ€”kayak lelah karena nggak punya tempat buat berbagi. Aku tetap berusaha fokus, tetap menyelesaikan apa yang harus dilakukan, tapi rasanya lebih berat dari biasanya.

Di tengah belajar, kadang kepikiran kamu.
Hal kecil ajaโ€”kayak, โ€œkalau ada kamu, mungkin sekarang aku lagi ngeluh dikit terus ketawa lagi.โ€
Atau, โ€œkalau kamu ada, mungkin capeknya nggak akan seberat ini.โ€

Dan di situ aku sadar, kamu bukan cuma seseorang yang aku ajak ngobrol. Kamu itu tempat pulang kecil di tengah hari yang melelahkan.

Menjelang sore sampai malam, rasa capek itu masih kebawa. Tapi di balik itu, muncul rasa lainโ€”rindu yang pelan. Nggak berisik, nggak berlebihan, tapi terasa dalam.

Rindu yang datang saat lagi diam.
Rindu yang muncul justru di saat paling capek.

Dan dari dua hari itu, aku jadi mengerti sesuatu.

Bahwa kehadiran kamu selama ini mungkin terlihat sederhanaโ€”cuma pesan, cuma obrolan ringan, cuma hal kecil. Tapi ternyata, itu yang bikin hari terasa lebih ringan.

Karena tanpa ituโ€ฆ
hari tetap berjalan,
tapi capeknya terasa lebih berat,
dan sepinya terasa lebih panjang.